ini mungkin terjadi ketika langit membeku
menuai reaksi saat awan yang menggumpal turunkan sejuk
mentari yang ceria terlihat tak keberatan
mungkin belum, hingga nanti akan hujan
tapi adakah yang melihat rumput saat itu
rimbun hinggapi setiap sisi betis mengurai gatal
entah rumput yang ciptakan atau keringat yang selimuti
mungkin karena lelah, hingga lupa akan asal
teriak lupakan sabar
menunduk luapkan kesal
agar tak ada yang tahu dan tak ada masalah
lalu entah mengapa dan terjadi
menuai bibit...
apa salah menjadi peduli ?
nyatanya hanya keraguan yang lupakan bentuk
dan ciptakan sifat non geometris
meliuk dan muncul disana sebuah pola
yang menjadi simbolisasi ketika butuh yang terlalu candu
ketika lupa akan kemampuan untuk membedakan sesuatu
dan pasrah pada bentuk itu
terpaut mengambang melayang dan lupa untuk pulang
saat gelisah akan ingin yang tak terpenuhi
saat senyum yang hiasi ketidaksanggupan untuk membendungi
saat dimana ini terlalu jauh, terlalu dalam, terlalu rumit
dan lupa bagaimana untuk kembali
terjadi terlalu cepat terlampau singkat
namun sakit yang meresapi setiap sendu telah bersarang
beri setiap detik setiap tetes kesedihan
renungan lupakan kenyataan hamburkan kesadaran
bersanding dengan hanya seorang teman
kesedihan...
hujan pun datang seiring kenyataan bahwa mentari akhirnya kesal
sendukan setiap aktivitas dunia
cerahkan rerumputan yang gersang
akhiri cerita dimana setiap rasa tak seharusnya ada
karena akan selalu tersedia pedih bagi semua yang memuja indah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
jangan sungkan tuk berkicau